Selamat Tinggal “obat Kuat”

20 Sep 2018
Kalau berbicara tentang sakit Trigeminal Neuralgia seperti yang pernah saya alami, rasanya saya trauma sekali. Bayangkan, selama 11 tahun saya mengalami penderitaan yang luar biasa. Pada umumnya memang sakitnya tidak seberapa, dan cuma terasa di bibir atas sebelah kanan saja. Tapi lama kelamaan bukan nyeri biasa tapi sebelah wajah saya sampai terkena setrum. Sakit itu membuat saya kesulitan makan dan minum, apalagi kalau sakit gigi. Begitu sikat menyentuh gusi atau gigi, rasa sakitnya seperti terkena petir.                 

Semula saya sempat memeriksakan ke dokter gigi, tapi beruntung dokter yang saya datangi memberitahu bahwa sakit ini bukan dari gigi tapi akibat saraf, sehingga tidak perlu dilakukan pencabutan. Padahal, penderita trigeminal yang lain rata-rata giginya banyak yang habis dicabut karena dikira gigi sebagai biang masalah.  Karena di Jambi tidak ada dokter yang bisa menyembuhkan, sementara sakit saya makin parah akhirnya saya mencoba berobat ke bagian saraf di rumah sakit terbesar di Jakarta. 

Di Jakarta, saya lakukan pemeriksaan lengkap, bahkan MRI saja sampai dilakukan dua kali. Tapi pada akhirnya jawaban yang dokter berikan membuat saya ketakutan. Pengobatan yang bisa dilakukan ada dua cara, satu dilakukan operasi dengan membuka seluruh batok kepala, atau minum obat selamanya. Tentu saja, saya memilih minum obat ketimbang harus operasi. Apalagi, alasan dokter penyebab sakit ini menurut saya tidak meyakinkan. Menurutnya, biang persoalan sakit saya ini dipicu karena masuk angin.                

Sejak itu saya bertahun-tahun minum obat setiap hari. Obat tersebut pada awalnya hanya bisa mengurangi sedikit rasa nyeri tapi pada akhirnya tidak berfungsi sama sekali. Kendati demikian, tetap saja saya minum, saya khawatir kalau dihentikan nanti sakitnya akan semakin parah.  Soal obat ini, ada cerita lucu. Petugas apotek ASKES heran kenapa saya bertahun-tahun mengambil obat yang sama, memang saya menderita sakit apa, mengingat secara fisik luar saya sangat sehat, tidak ada kekurangan apapun. Mendapat pertanyaan itu lalu saya setengah berseloroh menjawabnya, saya bilang kepadanya bahwa obat yang saya tebus tersebut adalah “obat kuat”.                 

Selain berobat ke dokter, saya juga mencoba berobat ke alternative juga teman-teman di gereja dalam setiap kesempatan tak lupa bersama-sama turut mendoakan kesembuhan. Bahkan, menurut teman-teman di kelompok koor gereja, sakit ini kemungkinan akibat kesalahan pemakaian kosmetik.                 

Penderitaan yang berkepanjangan ini membuat keluarga saya ikut stress, terutama suami saya Pahala Manurung. Ada kejadian yang memilukan, ceritanya pernah suatu malam karena suami saya sedih akibat sakit yang tak kunjung sembuh sampai dia teledor. Saat melintas di sebuah jembatan waktu mengantar ke dokter, ternyata jembatan yang dilintasi itu berlubang, sehingga ia terperosok dan jatuh ke bawah jembatan. Beruntung air sungainya kering.                 

Akhir Desember 2011, rasa nyeri kambuh makin hebat. Tapi bersamaan dengan itu kami mendapatkan informasi bahwa di Surabaya ada operasi yang bisa menyembuhkan penyakit saya ini. Tanpa membuang waktu saya langsung ke Surabaya. Setelah dilakukan MRI, kemudian tanggal 10 Januari saya langsung dioperasi. Ada perasaan bahagia yang luar biasa, karena setelah tersadar saat menuju ruang ICU rasa sakit yang pernah saya derita belasan tahun itu hilang seketika. Sungguh ini adalah berkah Tuhan yang tak ternilai harganya.   

Selamat tinggal “Obat Kuat”.
make appoinment