Nyaris Putus Asa Bergulat Dengan Trigeminal Neuralgia

20 Sep 2018
Dua tahun lamanya Bahrum Harahap (58) hooh mbak, maksudnya bergulat dengan rasa sakit yang luar biasa. Kalau kumat, wajahnya seolah disayat-sayat, gusinya seperti ditusuk-tusuk. “Pokoknya rasa sakitnya tidak terkira,” katanya. Ia tak mengerti apa pemicunya, awalnya ketika gotong royong warga kampung di tempat tinggalnya.“Pas istirahat, makan krupuk tiba–tiba terasa sakit di bagian kepala kanan. Rasanya seperti disetrum,” cerita Bahrum. 

Makin lama terus menjalar ke seluruh sisi wajah termasuk giginya pun ikut nyeri hebat. Lebih- lebih kalau di buat makan dan berbicara. “Kalau mau wudhu saja muka saya ini saya basuh dulu dengan air hangat agar kalau kena air dingin tidak terlalu nyeri,” ujarnya. 

Mengira ada masalah di gigi, ia datang ke dokter gigi. “Gigi saya yang sempat dibor, katanya di bagian itu diduga sebagai penyebab munculnya rasa sakit,” kata bapak yang tinggal di Parapat, delapan jam perjalanan darat ke Medan. Ternyata sakit tersebut tak kunjung sirna, bahkan makin menjadi. Tak mau menyerah dengan keadaan, kemudian mencoba ke dokter saraf, tapi lagi-lagi juga tak berhasil. “Yang bisa saya lakukan cuma minum obat penghilang rasa sakit. Kalau tidak begitu saya tidak kuat,” ujarnya. 

Karena tindakan medis belum membuahkan hasil, Bahrum lalu mencoba ke dukun. “lebih dari sepuluh dukun saya datangi dengan berbagai cara penyembuhan tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda kesembuhan, Saya nyaris putus asa,” cerita Bahrum. 

Di tengah kebingungan mencari kesembuhan itu, kabar gembira datang dari anaknya. Setelah membuka berbagai situs di internet akhirnya menemukan jenis sakit yang gejalanya sama dan termasuk dokter yang biasa menangani. “Dari sana kami baru tahu bahwa sakit saya namanya trigeminal neuralgia atau TN,” cerita Bahrum. 

Setelah yakin kalau sakitnya bisa disembuhkan, semangat laki-laki yang bekerja sebagai wiraswasta ini untuk sembuh semakin kuat. 

Tanggal 16 Januari 2013 adalah saat yang tak bisa dilupakan Bahrum, setelah operasi di Surabaya, seketika itu sakit yang mendera dua tahun lamanya mendadak hilang. “Jangan ditanya bagaimana bahagianya hati saya,” ujar Bahrum sambil tersenyum.    
make appoinment